02 Januari 2009

Yang lalu biarlah berlalu....

Mengingat masa lalu kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad, dan mengubur masa depan yang belum terjadi.
Bagi orang yang berpikir, berkas masa lalu akan dilipat dan tak akan pernah dilihat lagi. Cukup ditutup rapat-rapat lalu disimpan dalam ruang 'penglupaan', diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan selamanya. Atau diletakkan dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan takan mampu mengembalikannya lagi. Keresahan takan mampu memperbaikinya lagi, kegundahan tidak akan mampu mengubahnya menjadi terang, kegalauan tidak akan mampu menghidupkanya kembali. Karena ia memang sudah tidak ada.
Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung masa silam. Selamatkan diri kita dari bayangan masa lalu! Apakah mungkin bisa mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan kita dengan masa lalu, keresahan kita atas apa yang terjadi padanya, keterbakaran emosi kita oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa kita pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.
Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan,mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam Al-Qur'an setiap kali menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah SWT selalu mengatakan "Itu adalah umat yang lalu" Begitulah suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya.Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.
Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.
Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian: "janganlah kau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya"
Adalah bencana besar jika kita rela mengabaikan masa depan dan justru disibukkan masa lalu. Itu sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan masa lalu niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.
Orang yang berpikiran jernih tidak pernah melibat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya angin berhembus ke depan, air mengalir ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunnah kehidupan!


_jangan pernah bersedih... La Tahzan_
pikirkan dan syukurilah...
(jika kamu menghitung nikmat Allah , niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya[QS Ibrahim:34])
(maka berpegang teguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur[QS Al-A;raf:144])

-loozerisnotbad-

2 komentar:

  1. assalaamu'alaykum wa r0hmatullaahi wa bar0kaatuh..

    sepakat,bg..
    ibnu qayyim al jauziyah rahimahullah jg mengatakan,
    bahwa hal paling jauh adalah masa lalu,
    karena apapun yg telah tjd,tak mungkin di tarik kembali,,.

    BalasHapus
  2. Alaykumussalam waroh matulloh wa barokatuh..
    ^^
    trm ksh

    BalasHapus