12 Desember 2008

Karya-karya Kahlil Gibran

berikut merupakan beberapa karya Kahlil Gibran.... ga tau ini merupakan puisi atau entah...
tapi jika dimaknai lebih lanjut.... akan berarti luas... @@ (*bingung deh pokonya, he)

Penyesalan


Pada suatu malam yang tak berbulan, seorang lelaki memasuki kebun tetangganya dan mencuri semangka terbesar yang ditemuinya, lalu membawa pulang ke rumah. Dibelahnya semangka itu, namun ternyata belum matang. Dan terjadilah keajaiban!
Kesadaran lelaki itu bangkit sehingga muncullah penyesalannya; dan ia menyesal karena mencuri semangka itu.

Cinta dan kebencian

Seorang wanita berkata pada seorang lelaki, "Aku cinta padamu."
Dan si laki-laki menjawab, "Hatiku ini terlalu berharga bagi cintamu."
Dan si wanita bertanya, "Engkau tidak mencintaiku?"
Si laki-laki hanya memandang si wanita dan tak mengucap apapun.
Wanita itupun menangis sekeras-kerasnya, "Aku benci kamu!!"
Dan si laki-laki itu menjawab, "Maka hatikupun terlalu berharga bagi kebencianmu...."



Seorang pertapa dan hewan-hewan buas

Alkisah, dahulu kala hiduplah seorang pertapa di antara bukit-bukit hijau. Hatinya putih dan jiwanya suci. Semua binatang yang tinggal di daratan, dan semua unggas yang terbang di angkasa datang berpasangan untuk mendengarkan perkataan sang pertapa. Binatang-binatang itu berkumpul di dekatnya dan mendengarkan dengan senang hati segala perkataanya. Mereka tak beranjak sampai malam tiba. hingga pertapa itu menyuruh mereka pergi, mempercayakan angin dan hutan kepada mereka dengan segala berkat darinya. suatu senja ketika sang pertapa berbicara tentang kasih sayang, seekor macan mengangkat kepalanya dan bertanya, "Engkau berbicara tentang kasih sayang kepada kami semua. Ceritakan tuan, dimanakah istrimu sekarang?"
Dan pertapa itu menjawab, "Aku tak memiliki istri". Suasanapun gaduh ketika semua hewan buas dan unggas itu berteriak, dan mereka saling berkata pada diri mereka sendiri, "Bagaimana mungkin ia dapat berbicara tentang kasih sayang dan mencari pasangan jika ia tak mengalami satupun dari semua itu?" Dengan diam dan penuh kekecewaaan hewan-hewwan itu meninggalkan sang pertapa itu sendiri. Malam itu, pertapa berbaring tertelungkup, sambil menangis pedih dan memukul-mukul dada dengan kedua tanganya.


(Kahlil Gibran) "semua orang memiliki tanggungan air mata yang harus ia kembalikan suatu hari nanti"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar